imageMinggu ini saya sungguh bahagia, karena akhirnya bisa pindah rumah. Sebagai seorang kontraktor yang setiap tahun harus mengontrak rumah, saya akhirnya menemukan rumah kontrakan baru. Lokasinya masih terjangkau untuk mengantar anak sekolah, atau isteri yang ke rumah sakit tiap hari naik komuter.

Mengapa saya bahagia? Karena akhirnya saya bisa pindah dari kampung yang kampungan. Lokasi rumah kontrakan baru ini tidak terlalu ramai meskipun banyak tetangga. Juga tidak terganggu lagi oleh kebisingan yang rutin setiap pagi, siang, dan sore. Saya tidak pusing lagi harus mencari jalan pulang karena selalu ditutup seenak udelnya sendiri oleh orang kampung, dengan alasan punya hajat. Lha wong ‘mempertemukan dua burung’ saja kok mengganggu kepentingan umum.

Saya juga tidak lagi terganggu oleh musik dangdut yang kampungan karena diputar dengan volume luar biasa sehingga kaca rumah sampai bergetar. Telinga saya juga nyaman karena tidak lagi terganggu oleh tetangga yang mengadakan acara entah apa setiap minggunya, dan selalu dikumandangkan dengan pengeras suara.

Intinya saya berpindah ke tempat yang lebih tenang dan nyaman. Di perumahan. Bukan lagi di kampung. Saya baru menyadari, ternyata sulit untuk menjadi orang kampung. Apalagi orang kampung yang sungguh kampungan …