imageSaya yakin Anda pernah berhenti di depan palang pintu kereta api, menunggu kereta lewat. Anda juga tahu bagaimana para pengendara sepeda motor kemudian saling berebut menumpuk jadi satu dekat pintu kereta, bahkan hingga sekian ruas jalan marka sebelah kanan menjadi penuh.

Mereka menunggu kereta lewat bak pembalap siap bertanding menunggu lampu hijau start. Begitu kereta selesai lewat, mereka pun berhamburan saling mendahului mencari jalan masing-masing. Alhasil kondisi semakin semrawut karena kedua jalur kanan dan kiri dari depan saling berbenturan.

Saya tidak tahu apakah Anda pernah berpikir seperti saya. Menurut saya para pengendara sepeda motor yang semua numpleg nyelonong masuk ke marka kanan untuk mencari tempat paling nyaman agar paling cepat berjalan setelah kereta lewat, adalah kelompok orang yang goblok dan egois!

Mengapa? Mereka egois karena mementingkan diri sendiri untuk berusaha berada paling depan, sehingga paling cepat berjalan setelah kereta lewat, tanpa memikirkan akibat yang timbul. Mereka tida memiliki ‘sense of crisis’.

Mereka juga goblok, karena tidak pernah berpikir bahwa apa yang mereka lakukan malah memperlambat perjalanan karena semua menjadi semrawut. Mereka tidak pernah berpikir bahwa dengan mengambil marka kanan akan berbenturan jalur dengan pengendara dari depan, dan ini artinya melanggar hak pengguna jalan yang lain.

Bukankah lebih baik tetap antri tanpa harus melanggar marka? Sehingga ketika kereta telah lewat pengendara dari jalur depan bisa langsung berjalan dengan lancar.

Bukankah juga lebih baik sedikit mengekang egoisme, agar tidak terjadi benturan karena persamaan kepentingan? Toh sesama pengendara juga memiliki hak yang sama untuk menggunakan jalan, dan hak yang sama untuk tidak terhambat oleh ulah egois pengendara yang lain?

Tapi inilah yang terjadi sejak saya masih remaja. Hingga sekarang sama sekali tidak ada perubahan ke arah kemajuan. Hanya palang pintu kereta api itulah yang menjadi saksi bisu egoisme dan kegoblokan mereka …

Bagaimana menurut Anda?