imageCatatan Pamungkas – Ternyata budaya kampungan, sikap kampungan, dan pola pikir kampungan benar-benar ada. Dulu saya mengira itu hanya istilah untuk olok-olokan saja. Ternyata saya telah membuktikan sendiri di kampung dimana saya tinggal. Ceritanya gini.

Dulu saya telah menulis bagaimana saya mencoba memahami sulitnya toleransi. Di situ saya ceritakan tentang orang-orang kampung yang suka menutup jalan seenak udelnya sendiri saat punya hajat (sayangnya) kurang memikirkan kepentingan umum.

Nah, beberapa minggu lalu tetangga sebelah punya hajat  kawinan. Maklum breeding season! Saat saya tahu mereka mempersiapkan acara itu, saya langsung berpikir: wah, bakalan budeg lagi ini kuping! Seratus persen dugaan saya terbukti!

Mencoba memahami budaya dan sikap kampungan

Mulai jam empat sore, dua salon dengan speaker full range ditumpuk di dekat halaman rumah saya, melantunkan lagu (selalu) dangdut, diputar kenceng! Akibatnya jendela dan kaca rumah saya bergetar semua! Ngomong di dalam rumah yang telah saya tutup rapat pun harus teriak.

Saya dan keluarga mencoba bertahan, tetapi hanya kuat kurang dari dua jam. Meski sebenarnya saya kurang setuju, tetapi isteri saya ngeyel mengambil inisiatif untuk meminta supaya volume speaker diperkecil dengan mendatangi rumah Pak RT yang kebetulan berada di depan rumah saya.

Sayang tidak ketemu orangnya.

Lantas isteri saya mencari operator sound system dan meminta untuk memperkecil volume speaker karena keluarga saya terganggu. Bagaimana sikap sang operator? Dengan cuek dan mata melotot seperti telor mata sapi dia bilang bahwa itu sudah berada pada setting volume terkecil. Ha? Asal ngejeplak itu operator! Bagaimana bisa volume speaker yang begitu kencang sehingga kaca rumah bergetar kok dibilang sudah setting terkecil?

Setelah beberapa saat isteri saya bersitegang dengan sang operator disaksikan oleh beberapa orang kampung dengan pandangan mata aneh, akhirnya volume speaker diperkecil. Isteri saya pulang.

Beberapa saat kemudian sound system tampaknya dimatikan. Beberapa saat kemudian Pak RT datang ke rumah dan bilang bahwa tetangga sebelah punya hajatan dan harus memutar musik.

Isteri saya menjawab: O, ya silahkan pak. Tapi mbok ya jangan terlalu kencang. Keluarga saya terganggu karenanya. Yang punya hajat punya hak, tetapi saya juga punya hak, karena saya juga warga sini.

Tampaknya Pak RT, sang pahlawan kesiangan ini, berusaha menengahi persoalan, atau memberitahu, atau meminta ijin. Ah! Yang benar saja! Dia datang ke rumah karena laporan orang kampung bahwa isteri saya protes kok. Kalau memberitahu atau minta ijin kan sebelum acara dimulai. Lha ini sudah kadung jalan kok baru memberitahu. Lagian tanpa diberitahu wong saya sudah tahu. Lagian kalau minta ijin, ngapain juga minta ijin ke kita?Annoyed

Atas inisiatif Pak RT akhirnya speaker dipindah dan tidak menghadap langsung ke rumah saya. Tetapi tetap saja tidak ada perbedaan. Akhirnya saya sekeluarga mengungsi tidur ke rumah kakak.

Esoknya, ketika kita pulang, banyak orang kampung yang menatap dengan pandangan aneh, seakan saya sekeluarga adalah makhluk asing yang baru datang dari galaksi lain Sad smile

Bayangkan. Seseorang punya gawe dan sound systemnya mengganggu kita. Saat diminta baik-baik agar sedikit saja mengurangi volumenya, mereka tidak rela. Padahal maksud saya sama-sama enaklah, karena juga sama-sama punya hak. Situ bisa hajatan, kita juga bisa memahami ketidaknyamanan yang timbul selama dalam batas tertentu. Yang ini keterlaluan! Malah saya sekeluarga dianggap aneh karena berani protes terhadap kebiasaan kampung. Kesannya saya tidak suka dan terganggu karena tetangga punya gawe. Wrong! That’s not the point! Silahkan punya gawe. Tetapi musiknya jangan terlalu kenceng! Tetangga lain juga punya hak untuk bisa istirahat dengan nyaman!

Saya yakin sebenarnya ada tetangga yang juga merasa terganggu. Tetapi mereka pasrah dan tidak berani protes, jadi mereka menerima ketidaknyamanan itu begitu saja. Sebab jika berani protes malah dianggap aneh dan bersalah!

Inilah kekacauan tentang kebenaran: sesuatu yang salah apabila dilakukan oleh banyak orang sehingga menjadi sesuatu yang biasa, akhirnya dianggap sebagai kebenaran. Lihat saja. Isteri saya protes terhadap suatu kesalahan dan menginginkan kebenaran, tetapi malah dianggap salah! Saya menyebut fenomena ini sebagai ironisme interaksi sosial.

Saya tak habis mengerti. Inikah yang namanya toleransi? Inikah yang namanya among roso?

***

Jumat, malam tahun baru 2011, sekitar jam sembilan malam bersama anak isteri saya baru pulang dari rumah kakak. Saya baru tahu di dekat halaman rumah didirikan tenda, tampaknya untuk melekan malam tahun baru. Tidak lupa, seperti biasa, lagu dangdut distel kenceng dari dua buah speaker. Selalu dangdut!

Ketika masuk ke dalam rumah, seperti dulu juga, kaca rumah saya bergetar saat dentuman bass lagu dangdut menggema! Beberapa saat saya mecoba ‘menikmati’ lagi kondisi tersebut sambil merenung memikirkan apa yang harus saya lakukan.

Isteri mengusulkan untuk meminta mengecilkan volume speaker seperti dulu. Saya langsung menolak, karena bisa berpotensi menjadi masalah lagi.

Mengingat malam tahun baru biasanya melekan sampai larut, saya menduga dangdutan itu tidak akan segera berakhir. Akhirnya saya memutuskan untuk mengungsi tidur lagi di rumah kakak.

Saat saya sekeluarga keluar untuk berangkat mengungsi, beberapa pria dan bapak-bapak tampak cangruk main catur dan karaoke-an. Ketika saya hendak berangkat, salah satu dari mereka nyeletuk: Nah, udah mengungsi. Aman, aman …

Saya sempat tercenung mendengar celetukan itu.

***

Saya mengambil simpulan dari pengalaman tersebut. Ternyata among roso, toleransi, kepekaan sosial, menerima dan menghargai pendapat dan kepentingan orang lain, itu tidak ada dalam sikap orang kampung! Itu saja tidak ada, apalagi kesediaan untuk mendengar pendapat orang lain serta berpikir cerdas dan intelek. Tidak ada!

Yang ada hanyalah menjunjung tinggi kepentingan kelompok, tidak peduli orang lain terganggu, tidak peduli kepentingan orang lain, tidak bisa menerima pendapat atau kritikan, tidak bisa berpikir cerdas dan elegan, dan selalu lebih menonjolkan emosi jika orang lain berbeda atau tidak sejalan dengan pikiran dan budaya mereka. Inilah kampungan!

Saya masih ingat ketika kakak memodifikasi rumah membangun satu lantai atas untuk kamar. Karena berdekatan dengan tetangga, kakak saya menyempatkan diri sowan ke rumah tetangga sebelah dan tetangga belakang untuk memberitahu bahwa dia akan membangun rumah, dan sebelumnya minta maaf bila mungkin dalam pengerjaannya nanti sedikit banyak menimbulkan ketidaknyamanan. Inilah sikap pikir yang cerdas dan elegan! Tidak kampungan!

Bukannya saya anti sosial. Saya hanya sama sekali tidak cocok dengan pola pikir dan sikap kampungan seperti yang saya alami.

Bukankah lebih indah, misalnya begini:

  • Jika punya gawe tetapi dana cekak untuk sewa gedung sehingga terpaksa menutup jalan, ee.. mbok ya dipersiapkan beberapa petugas untuk alih arus. Kalau terpaksa menutup jalan utama atau jalan protokol, ee.. mbok ya lapor polisi supaya ada aparat yang mengatur lalu lintas. Dengan demikian kepentingan umum tidak terganggu. Ini namanya cerdas karena memiliki sense of crisis.
  • Jika punya gawe dan mesti pakai sound system, ee.. mbok ya distel pada volume secukupnya sehingga tidak terlalu mengganggu tetangga. Selain itu tamu yang datang juga bisa ngobrol lebih enak dan gak harus teriak karena sound terlalu kencang. Selain itu bisa jadi ada tetangga yang punya orangtua sudah sepuh, atau lagi sakit, atau punya bayi. Hargailah mereka itu sedikit saja supaya bisa beristirahat dengan tenang (eh, kayak meninggal aja). Jangan berkedok karena punya gawe belum tentu setahun sekali terus semau gue menghalalkan segala cara tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain. Masa hanya punya gawe untuk ‘mempertemukan dua burung’ saja kok mengganggu tetangga semalaman. Nah, orang yang paham masalah ini namanya memiliki social sense yang baik.
  • Jika punya gawe, sebelum pelaksanaan pada hari H, ee.. mbok ya anjangsana ke tetangga terdekat untuk menyampaikan undangan sekaligus ‘abang-abang lambe’ (formalitas) ijin bahwa mau punya gawe, minta maaf mungkin sementara mengganggu. Toh, sebenarnya tanpa ini pun tetangga juga maklum. Tapi namanya wong Jowo biasanya mengutamakan unggah-ungguh (etika atau kesopanan). Ingatlah, bahwa sikap awal seseorang akan menentukan respon dan kelanjutan sikap orang lain. Nah, orang yang melakukan ini namanya memiliki rasa tepo seliro (toleransi) dan among roso (menjaga perasaan orang lain).
  • Jika ada tetangga yang menyampaikan pendapat, ee.. mbok ya didengarkan dulu, diresapi, baru ditanggapi dengan argumen yang masuk akal, sopan, cerdas, dan elegan (wuih!). Emosi yang langsung muncul karena pendapat yang berbeda menandakan egoisme seseorang karena tidak bisa menerima perbedaan sekaligus mencerminkan tingkat intelektual seseorang.
  • Jika kelak Anda menjadi pejabat setingkat RT (bukan setingkat menteri), sebaiknya bisa mengakomodir kepentingan warga secara adil. Sebagai contoh cerita saya di atas, Pak RT harusnya bisa mengingatkan orang yang punya gawe sedemikian rupa supaya tidak terlalu mengganggu tetangga, sekaligus bisa membuat warga lain menerima dan memaklumi ketidaknyamanan yang mungkin timbul. Jabatan sebagai Pak RT adalah pemimpin. Pemimpin bukanlah seorang yang ditakuti atau seorang yang suka menyuruh, melainkan seseorang yang mampu mengkoordinasikan seluruh anggota sistem sedemikian rupa, sehingga suatu sistem bisa bekerja selaras (istilahnya terlalu tinggi ya?)

Coba rasakan bila item-item di atas bisa dilaksanakan. Alangkah indahnya hidup di kampung. Tapi ini tidak!Shifty

Pengalaman ini membuat saya punya cita-cita: jika bisa beli rumah kelak, saya tidak mau di kampung. (Ee.., jadi belum punya rumah to? Iya. Saya masih kontrak di sebuah kampung, dan saya menyesal. Hiks hiks …Crying face)

O, ya. Satu lagi. Karena setiap orang kampung yang sikapnya kampungan setiap punya gawe selalu memutar musik dangdut, maka simpulan saya yang terakhir adalah: dangdut juga musik kampungan!

Tentang dangdut sebagai musik kampungan, saya akan tulis di artikel mendatang.Winking smile