imageCatatan Pamungkas – Tiga hari lalu sewaktu berangkat bekerja, kurang sekitar 500 meter saya hampir sampai di kantor, mendadak ban sepeda motor saya kempis. Segera saya menepi. Sebuah paku yang cukup panjang menancap dalam di ban belakang saya. Untungnya tepat di seberang jalan dimana saya berhenti ada tukang tambal ban. Segera sepeda motor saya tuntun untuk tambal ban di sana.

Tiga hari lalu sewaktu hendak pulang dari kantor sekitar jam 8 malam, hujan lumayan deras. Untungnya seminggu sebelumnya saya telah membeli jas hujan yang baru, karena yang lama sudah sobek. Saya segera bergegas mengenakan jas  hujan dan berangkat pulang.

Ketika hampir sampai di depan terminal Bungurasih, tiba-tiba terdengar letusan kecil, dan mendadak sepeda motor saya oleng. Dalam waktu yang singkat saya langsung menduga bahwa ban saya bocor lagi. Saya langsung menepi dan memeriksa ban belakang. Sip! Gembos lagi! Baru dua hari sebelumnya nambal ban, sekarang bocor lagi! Sebuah anak kunci kecil menancap di ban belakang. Saya sempat mengumpat.

Setelah mencabut anak kunci yang menancap tadi, masih di bawah hujan yang cukup deras saya segera menuntun sepeda untuk mencari tukang tambal ban. Sepanjang jalan saya tak habis berpikir. Ada apa dengan saya? Hanya dalam waktu tiga hari saya diberi ‘cobaan’ oleh Tuhan: ban bocor dua kali! Mana sekarang hujan lagi!

Ketika sedang menikmati ‘penderitaan’ menuntun sepeda gembos di bawah hujan, tiba-tiba terdengar seseorang dari tepi jalan bertanya kepada saya:

Kenapa pak?

Ini, gembos! Kena paku! Jawab saya.

O, terus aja pak! Di depan pintu masuk terminal seberang jalan ada tambal ban di sana. Gak jauh kok.

Oke! Terimakasih. Jawab saya lagi.

Benar seperti yang dikatakan orang tadi. Tepat di seberang jalan depan pintu masuk terminal Bungurasih ada tambal ban 24 jam. Saya segera menyeberang dan menyerahkan sepeda motor saya.

Sambil menunggu ban saya ditambal, saya duduk mengamati tukang tambal ban tersebut mengerjakan tugasnya, sambil menikmati sebatang jisamsu kretek untuk mengusir dingin.  Saya merenungkan peristiwa mulai tiga hari lalu hingga saat saya duduk sekarang ini.

Jika kita mau melihat sisi positif dari setiap peristiwa, maka ada tiga poin penting dari peristiwa yang saya alami.

Pertama. Saya sadar bahwa Tuhan selalu bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti. Dua kali ban bocor pada tempat dan waktu yang menurut saya tidak tepat. Tetapi saya mengimani hal ini: selalu ada makna baik di balik peristiwa yang menyakitkan sekalipun. Bisa jadi Tuhan dua kali ‘membocorkan’ ban saya untuk menahan ruang dan waktu saya agar tidak berada pada tempat dan waktu yang salah, untuk menghindarkan saya dari sesuatu yang tidak baik, apa pun itu. Dan saya percaya.

Kedua. Seseorang memberitahu saya tempat tambal ban tanpa saya minta. Apakah ini keberuntungan saya ataukah pelajaran untuk saya? Saya percaya ini adalah pelajaran buat saya agar mencontoh perbuatan orang tersebut. Bayangkan. Kenal pun tidak, ada urusan pun tidak. Tetapi orang tersebut dengan tulus tanpa diminta membantu saya memberi informasi yang saat itu sangat penting dan berguna buat saya: tempat tambal ban. Pelajaran yang saya petik: berbuatlah baik kepada orang lain dalam bentuk terkecil sekalipun. Kebaikan kecil yang kita berikan bisa jadi merupakan hal yang besar bagi orang lain.

Ketiga. Saya tidak bisa membayangkan seandainya tidak menemukan tambal ban. Bagaimana saya bisa pulang? Tukang tambal ban ini bekerja untuk saya, mengisi kebutuhan saya saat itu. Dia telah bekerja dan membuat dirinya berguna untuk orang lain yang membutuhkan. Pelajaran yang saya petik: bekerja adalah melayani orang lain yang membutuhkan. Jangan melihat apa jenis pekerjaan seseorang. Karena dengan bekerja, apapun itu, kita telah membuat diri kita berguna bagi orang lain. Jadi, mari bekerja dengan baik, melayani Tuhan dan sesama kita.

<!–aiospwlwbstart
aiosp_title=Belajar berpikir positif
aiosp_keywords=berpikir positif, makna di balik peristiwa, makna positif
aiosp_description=ada makna baik di balik setiap peristiwa
aiospwlwbsend–>