imageCatatan Pamungkas – Kisah seputar Yesus Kristus tak henti-hentinya mendapat perhatian besar. Kita tentu masih ingat dengan heboh novel fiksi “The Da Vinci Code” karya Dan Brown beberapa waktu lalu. Kisah kontroversial yang telah memicu berbagai reaksi dari umat beragama, khususnya Kristen itu mengangkat adanya konspirasi Katolik Roma untuk menutup-nutupi pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena.

Tahun ini kisah seputar Yesus kembali menjadi perbincangan hangat, yakni mengenai ditemukannya makam Yesus. Penyebabnya adalah film dokumenter “The Lost Tomb of Jesus” yang mengklaim bahwa sebuah gua di Yerusalem selatan yang ditemukan pada tahun 1980 berisi tulang-belulang Yesus. Makam tersebut diperkirakan berusia sekitar 2 ribu tahun. Klaim ini mengindikasikan bahwa Yesus tidak bangkit kembali dari kematian seperti yang selama ini dipercaya umat kristiani.

Makam Yesus ditemukan!

Film yang diproduseri James Cameron, sutradara film dokumenter “Titanic” itu, ditayangkan dalam program Discovery Channel pada 4 Maret 2007 lalu. Film kontroversial itu juga mengusung temuan bahwa Yesus dikuburkan di dekat Maria Magdalena, bahwa perempuan itu dan Yesus menikah serta adanya sebuah kotak kayu bertuliskan “Judah putra Yesus” yang merupakan milik anak laki-laki Yesus dan Maria Magdalena. Buktinya? Para periset mengklaim bahwa ekstrasi DNA dari residu manusia ditemukan pada dua peti di dalam makam tersebut. Untuk mendukung teori mereka, para pembuat film yang ramai dibahas media itu menuliskan kalimat “berdasarkan bukti sejarah terbaru, penggambaran akurat gambar Yesus dari Nazareth, keluarganya, pengikutnya, penyaliban dan penguburannya.”

image

Benarkah hal itu? Umat Kristen seluruh dunia mempertanyakan klaim tersebut. Begitu pula dengan para arkeolog ternama di AS dan luar negeri, mereka menyebut temuan yang diangkat dalam film itu tidak masuk akal. Pendeta Lonnie Wesley dari Greater Little Rock Baptist Church di AS mencetuskan kisah-kisah seperti itu tidak perlu ditanggapi. “Saya yakin bahwa hal-hal tertentu tidak layak untuk ditanggapi. Kenapa? Karena kadang-kadang respons justru akan menarik perhatian lebih besar daripada pernyataan aslinya,” tuturnya. Menurutnya, tidak penting untuk meributkan apakah film Cameron itu mengangkat fakta yang sebenarnya atau tidak. “Yang lebih penting, apa yang Anda percayai? Pada akhirnya, kita sebagai Kristen diingatkan untuk berjalan dengan iman, bukan dengan penglihatan. Saya tidak tahu apa yang dia lihat, tapi saya tahu apa yang yakini,” tandasnya.

imageHebohnya film itu langsung ditanggapi dengan terbitnya buku baru yang mempertanyakan film dokumenter tersebut. Buku berjudul: The Jesus Tomb: Is It Fact or Fiction? itu mencetuskan bahwa dokumenter “The Lost Tomb of Jesus” telah menipu pemirsanya dan merupakan khayalan mereka yang memproduksi film itu. Penulis buku itu, Don Sausa menganalisa semua klaim, rumusan dan ‘bukti’ yang diangkat dalam The Lost Tomb of Jesus untuk menjawab satu pertanyaan saja: Fakta atau Fiksi?

Sausa merupakan anggota Society of Biblical Literature, organisasi yang menyelenggarakan pendidikan alkitab. Sausa telah mempelajari sejarah Alkitab lebih dari 10 tahun. Dari analisanya, penulis menyimpulkan bahwa bukti yang diangkat dalam film “The Lost Tomb of Jesus” mengenai sebuah makam di Yerusalem yang berusia 2 ribu tahun bukanlah tempat peristirahatan terakhir Yesus. “Analisa kami atas bukti, temukan DNA, analisis statistik dan wawancara perorangan dengan para pakar yang dalam film itu jelas-jelas menunjukkan bahwa klaim tersebut semata-mata berdasarkan spekulasi dan hiperbola,” kata Sausa. Sausa juga menuliskan, beberapa penjelasan masuk akal telah sengaja diabaikan dalam dokumenter itu. Misalnya hubungan kekeluargaan yang mungkin terjadi antara Yesus dan Maria Magdalena, karena bisa saja mereka ayah dan anak, hubungan sepupu, saudara tiri, atau bahkan kakek dan cucu. Jadi bukan hubungan suami istri seperti yang disebut dalam “The Lost Tomb of Jesus”.

Sebenarnya, kisah penemuan makam Yesus juga pernah diangkat dalam novel berjudul “The Templar Legacy” karya Steve Berry yang dirilis tahun 2006. Misteri seputar kematian Yesus dalam buku ini dilatarbelakangi dengan sejarah tentang ksatria Templar yang sudah musnah di abad 14. Cerita diawali dengan penyiksaan ketua ksatria Templar, Jaques de Molay, oleh Raja Philips IV. Inilah awal dari runtuhnya kejayaan ksatria Templar. Tapi ternyata, meskipun mereka dianggap sudah tidak ada, masih ada sisa-sisa prajurit yang setia, yang masih bertahan hingga saat ini. Salah satunya berada di Biara de Fointainess, Pyrenees.

Cerita kemudian bergulir ke masa tahun 2000-an. Di Kopenhagen, Kanada, Stephanie Nell datang ke sebuah pelelangan buku langka yang dianggap tidak menarik. Tapi ternyata buku itu terjual dengan harga yang sangat tinggi. Hanya dua orang yang memperebutkan buku tersebut. Stephanie tidak mendapatkan buku itu. Tapi, selain Stephanie dan si pembeli buku tersebut, masih ada pihak lain yang tertarik dengan buku itu, yang berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara termasuk membunuh. Dialah Raymond De Roquefort, biarawan dengan sepasukan anak buah yang siap mematuhi perintahnya. Berbekal buku catatan almarhum suami Stephanie, mereka berlomba mencari harta dan pengetahuan rahasia itu.

Cotton Malone, mantan agen lapangan Departemen Kehakiman, terpaksa meninggalkan kehidupan yang tenang sebagai pedagang buku antik ketika mantan bosnya, Stephanie, dirampok seseorang di Kopenhagen. Melihat mantan bosnya dalam bahaya, Malone tidak tinggal diam. Dan semakin jauh Malone terlibat, semakin dia menyadari bukan hanya nyawa yang menjadi taruhan di sini. Sementara itu, di saat yang sama, di Biara de Fontainnes, sang ketua sedang sekarat, meregang nyawa. Dia meninggalkan pesan-pesan untuk menjaga keutuhan biara dan ordo Templar. Tapi ketika sang ketua tiada, Raymond de Roquefort, salah seorang biarawan segera mempengaruhi biarawan lainnya untuk memilihnya sebagai ketua. de Roquefort berambisi untuk mengembalikan kejayaan ordo Templar. Oleh karena itu, de Roquefort berusaha merebut buku dan jurnal suami Stephanie, Lars Nell, yang meneliti tentang sejarah Templar. de Roquefort berusaha menemukan “rancangan besar” yang masih menjadi misteri itu. Buku yang jadi rebutan itu ternyata berisi tentang misteri harta karun dan pengetahuan rahasia para ksatria Templar. Berbagai misteri pun terungkap. Fakta-fakta sejarah yang selama ini jadi pertanyaan dan menimbulkan banyak perdebatan, pelan-pelan mulai mendapat titik terang, termasuk ditemukannya makam Yesus.

Beberapa bagian sejarah dalam buku ini, menurut Steve Berry, memang benar adanya. Meskipun ada bagian yang dikembangkan dan dimodifikasi. Seperti Biara de Fontainness yang merupakan biara rekaan Steve Berry. Yang menarik lagi, adalah tempat-tempat yang dikunjungi Cotton Malone dan teman-temannya.

Sumber: http://www.detiknews.com

<!–aiospwlwbstart
aiosp_title=Makam Yesus ditemukan
aiosp_keywords=makam Yesus, yesus tidak bangkit, lost tomb of jesus, penemuan makam Yesus
aiosp_description=Kontroversi penemuan makam Yesus
aiospwlwbsend–>