toleransiCatatan Pamungkas – Dua minggu ini saya suntuk berat. Betapa tidak? Jalan kampung dan gang di sekitar tempat saya tinggal semua ditutup karena didirikan terob. Tahu terob kan? Itu, tenda yang biasa dipakai orang yang punya gawe. Bahkan jalan protokol kelas tiga yang sudah sempit pun ditutup karena ada orang yang punya hajatan kawinan. Saya yakin ini marak di banyak tempat karena saat ini bulan besar (saya malah gak tau apa maksudnya bulan besar ! Shifty

Akibatnya, hanya untuk pulang atau pergi ke rumah saudara yang hanya berjarak sekitar satu kilometer saya menempuh waktu sekitar 30 menit lebih! Minggu malam kemarin saya malah terjebak kemacetan hingga satu jam di sebuah gang kecil jalan tembus karena jalan utama dan gang yang biasa dilalui kendaraan juga ditutup total! Hebat !! Mau tau kehebatannya lagi? Semua jalan ditutup karena orang punya gawe serentak di malam minggu, dimana arus lalu lintas meningkat !

Saya hanya bisa ngedumel sendiri diiringi alunan semua kosa kata sumpah serapah yang yang saya miliki !

Sulitnya toleransi dan menghormati kepentingan umum

Saya jadi ingat peristiwa yang sama beberapa bulan lalu.

Di sebelah pasar di kampung saya ada jalan protokol yang biasa dilewati banyak kendaraan termasuk truk, karena termasuk jalan utama. Nah, suatu hari sekitar jam tiga sore sepulang kerja saya terjebak kemacetan di sana. Semula saya tidak tahu mengapa terjadi kemacetan total. Setelah tahu, (seperti biasa) sumpah serapah apa saja yang saya miliki terlontar! Betapa tidak? Jalan protokol yang biasa dilewati kendaraan besar tiap hari ditutup untuk kawinan, didirikan panggung dangdut, tidak ada tanda atau pemberitahuan bahwa jalan ditutup, dan tidak ada upaya pengalihan arus lalu lintas. Hebatnya lagi, tidak ada seorang polisi pun di sana, jadi saya yakin orang yang punya gawe tidak lapor petugas! Inilah hebat! Huebat!

Saya tak habis pikir. Mengapa hajatan yang (sebenarnya) merupakan kepentingan pribadi atau kelompok kok bisa begitu diutamakan sedemikian rupa dengan menutup jalan sehingga menimbulkan kesulitan bagi umum? Bukankah lebih enak menyewa gedung? Selain lebih nyaman karena tamu tidak disuguhi ‘makanan berdebu’, juga tidak merugikan kepentingan umum.

toleransi

Tapi saya tahu saya juga tidak bisa menilai berdasar pikiran saya sendiri. Bukankah menyewa gedung juga mahal. Bisa saja orang yang punya hajat tidak ada cukup dana untuk itu.

Lah, repotnya semua yang punya hajat tidak punya dana untuk sewa gedung. Jadinya ya nutup jalan tadi! Enak! Gratis! Peduli amat sama orang lewat! Toh tidak mesti setahun sekali punya hajatan macam tu!

Lah, meskipun tidak setahun sekali, tapi yang punya hajatan tiap tahun gantian dan berlangsung serentak. Sama juga bohong!

Kalau kita mengaku orang Indonesia yang ramah tamah, suka gotong royong, mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan (jadi inget pelajaran PPKN Shifty), seharusnya bisa berfikir dengan otak, bahwa ada banyak sekali orang yang membutuhkan jalan tersebut. Jadi sebaiknya tidak menutup jalan seenak udelnya sendiri! Kalaupun terpaksa harus menutup jalan umum dengan apa pun alasannya, seharusnya ada pemberitahuan atau tanda penutupan jalan, terus pengguna jalan diberi alternatif alih jalur oleh seseorang atau petugas yang ditunjuk. Saya yakin pengguna jalan bisa menerima dan memahami dengan lapang dada. Inilah cara yang cerdas dan elegan! Jadi orang yang menutup jalan untuk punya gawe yang saya tulis di atas adalah orang bodoh dan egois!

Gak percaya kalau bodoh dan egois? Coba saja seandainya Anda menemui kejadian seperti saya di atas, terus coba tegur yang punya gawe, mengapa kok menutup jalan seenaknya. Saya yakin cuma ada dua pilihan: mereka menjelaskan dengan baik, atau malah emosi dan mengeroyok Anda! Saya percaya yang kedua!

Itu baru masalah jalan. Bagaimana jika tetangga sebelah yang punya gawe? Kurang tiga hari sudah pasang terob, tutup jalan, dan pasang sound system pakai salon gede, empat buah! Terus, disetel lagu dangdut kenceng, dengan setting bass pada equalizer mentok! Akibatnya kaca jendela bergetar semua!

Music (selalu) dangdut, diputar mulai jam dua belas siang hingga maghrib, off lima belas menit, terus disambung lagi sampai jam dua belas malam ! Praktis, tidak bisa tidur dan dipaksa mendengar lagu dangdut (yang saya tidak suka) dengan volume tinggi. Saya tidak tahu apakah cerita orangtua saya dulu bahwa orang Jawa itu lembah manah dan tepo seliro masih berlaku atau tidak. Crying face

Ini bukan mengada-ada. Saya alami sendiri beberapa kali!

Saya jadi ingat salah satu lagu nasional kita, …. itulah Indonesia

Bagaimana menurut Anda?

Labels: kepentingan pribadi,tepo seliro,kepentingan umum,sulitnya toleransi <!–aiospwlwbstart
aiosp_title=Sulitnya toleransi dan menghormati kepentingan umum
aiosp_keywords=kepentingan pribadi,tepo seliro,kepentingan umum,sulitnya toleransi
aiosp_description=Betapa menghargai kepentingan umum begitu sulit
aiospwlwbsend–>